PERTOLONGAN PERSALINAN PADA PROSES MELAHIRKAN

blogger templates

SOURCE: http://moveamura.wordpress.com/maternity/

Deskripsi

Proses fisiologis pengeluaran janin, plasenta dan membran dari uterus setelah 282 hari dalam kandungan.

Peralatan


Ÿ 1 bh: kateter urin logam

Ÿ 2 bh: duk untuk bayi

Ÿ 2 bh: tali untuk pengikat tali pusat

Ÿ 1 bh: gunting tali pusat

Ÿ 2 bh: klem arteri

Ÿ 1 bh: penghisap lendir

Ÿ Kassa secukupnya

Ÿ 1 bh: tempat betadine

Ÿ 3 bh: lidi kapas

Ÿ 1 bh: duk untuk persalinan

Ÿ 1 bh: setengah kocher

Ÿ 1 bh: gunting episiotomi

Ÿ Minimal 2 pasang sarung tangan steril

Ÿ Kapas sublimat dalam tempatnya


Set hecting

Dalam bak steril persiapan alat sbb:

Ÿ 1 bh nalpuder

Ÿ 1 bh pinset cilurgis

Ÿ 1 bh jarum otot/jarum kulit & benang catgut

Ÿ 1 bh depper besar

Ÿ 1 bh gunting hecting

Obat-obatan

Ÿ Lidonest/Lidocain dalam ampul dan spuit steril ukuran 5 cc

Ÿ Betadine dalam botol

Ÿ Obat-obatan uterotonika (1 amp syntosinon, 1 amp methergin, 1 spuit 2.5cc, kapas alcohol dalam tempatnya)

Alat-alat lain yang tidak steril

Ÿ Alat-alat untuk pemeriksaan tanda-tanda vital (sfignomanometer, stetoskop, termometer)

Ÿ Reflek hammer

Ÿ 1 bh stetoskop janin/laenec

Ÿ 1 bh meteran

Ÿ 1 bh pispot

Ÿ 1 bh tempat plasenta

Ÿ 2 bh bengkok

Ÿ 1 bh baju penutup/celemek

Ÿ 1 bh ember

Prosedur

1. Curigai atau antisipasi adanya persalinan jika wanita tersebut menunjukkan tanda atau gejala sebagai berikut:

- Nyeri abdomen yang bersifat intermitten setelah kehamilan 22 mingu

- Nyeri disertai lendir darah

- Adanya pengeluaran air dari vagina atau keluarnya air-air secara tiba-tiba

2. Pastikan keadaan inpartu jika:

- Serviks terasa melunak: adanya pemendekan dan pendataran serviks secara progresif selama persalinan

- Dilatasi serviks: peningkatan diameter pembukaan serviks yang diukur dalam cm

3. Kala I:

Ibu sudah dalam persalinan Kala I jika pembukaan serviks kurang dari 4 cm dan kontraksi terjadi teratur minimal 2 kali dalam 10 menit selama 40 detik.

Penanganan:

- Bantulah ibu dalam persalinan jika ia tampak gelisah, ketakutan, dan kesakitan: Berilah dukungan dan yakinkan dirinya. Berikan informasi mengenai proses dan kemajuan persalinannya. Dengarkan keluhannya dan cobalah untuk lebih sensitif terhadap perasaannya.

- Jika ibu tersebut tampak kesakitan, dukungan/asuhan yang dapat diberikan: Lakukan perubahan posisi, Posisi sesuai dengan keinginan ibu, tetapi jika ibu ingin di tempat tidur sebaiknya dianjurkan tidur miring ke kiri. Sarankan ia untuk berjalan. Ajaklah orang yang menemaninya (suami atau ibunya) untuk memijat atau menggosok punggungnya atau membasuh mukanya diantara kontraksi. Ibu diperbolehkan melakukan aktivitas sesuai dengan kesanggupannya. Ajarkan kepadanya tehnik bernafas: ibu diminta untuk menarik nafas panjang, menahan nafasnya sebentar kemudian dilepaskan dengan cara meniup udara keluar sewaktu terasa kontraksi. Jika diperlukan, berikan petidin 1 mg/kg BB (tetapi jangan melebihi 100 mg) I.M atau I.V secara perlahan atau morfin 0.1 mg/kg BB I.M, atau tramadol 50 mg per oral atau 100 mg supositoria atau metamizol 500 mg per oral.


- Penolong tetap menjaga hak privasi ibu dalam persalinan, antara lain menggunakan penutup atau tirai, tidak menghadirkan orang lain tanpa sepengetahuan dan seijin pasien/ibu.

- Menjelaskan kemajuan persalinan dan perubahan yang terjadi serta prosedur yang akan dilaksanakan dan hasil-hasil pemeriksaan.

- Membolehkan ibu untuk mandi dan membasuh sekitar kemaluannya setelah BAK/BAB

- Ibu bersalin biasanya meras apanas dan banyak keringat, atasi dengan cara: Gunakan kipas angin atau AC dalam kamar. Menggunakan kipas biasa. Menganjurkan ibu untuk mandi sebelumnya.

- Untuk memenuhi kebutuhan energi dan mencegah dehidrasi, berikan cukup minum.

- Sarankan ibu untuk berkemih sesering mungkin.

Pemantauan:

Parameter

Frekuensi pada fase laten

Frekuensi pada fase aktif

Tekanan darah

Setiap 4 jam

Setiap 4 jam

Suhu badan

Setiap 4 jam

Setiap 2 jam

Nadi

Setiap 30-60 menit

Setiap 30-60 menit

Denyut jantung janin

Setiap 1 jam

Setiap 30 menit

Kontraksi

Setiap 1 jam

Setiap 30 menit

Pembukaan servks

Setiap 4 jam

Setiap 4 jam

Penurunan

Setiap 4 jam

Setiap 4 jam

Pemeriksaan dalam:

Pemeriksaan dalam sebaiknya dilakukan setiap 4 jam selama Kala I pada persalinan, dan setelah selaput ketuban peca. Gambarkan temuan-temuan yang ada pada partogram.

- Pada setiap pemeriksaan dalam, catatlah hal-hal sebagai berikut: warna cairan amnion, dilatasi serviks, penurunan kepala

- Jika serviks belum membuka pada pemeriksaan dalam pertama, mungkin diagnosis in partu belum dapat ditegakkan. Jika terdapat kontraksi yang menetap, periksa ulang wanita tersebut setelah 4 jam untuk melihat perubahan pada serviks. Pada tahap ini, jika serviks terasa tipis dan terbuka maka wanita tersebut dalam keadan inpartu, jika tidak terdapat perubahan, maka diagnosisnya adalah persalinan palsu.

- Pada kala II persalinan lakukan pemeriksaan dalam setiap jam.

4. Kala II

Diagnosis:

Persalinan kala II ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan pembukaan sudah lengkap atau kepala janin sudah tampak di vulva dengan diameter 5-6 cm.

Penanganan:

- Memberikan dukungan terus menerus kepada ibu dengan: mendampingi ibu agar merasa nyaman. Menawarkan minum, mengipasi dan memijat ibu.

- Menjaga kebersihan diri: Ibu tetap dijaga kebersihannya agar terhindar dari infeksi. Jika ada darah lendir atau cairan ketuban segera dibersihkan.

- Mengipasi dan masase untuk menambah kenyamanan bagi ibu

- Memberikan dukungan mental untuk mengurangi kecemasan atau ketakutan ibu, dengan cara: menjaga privasi ibu, penjelasan tentang proses dan kemajuan persalinan, penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan dan keterlibatan ibu.

- Mengatur posisi ibu. Dalam membimbing mengedan dapat dipilih posisi berikut: jongkok, menungging, tidur miring, setengah duduk. Posisi tegak ada kaitannya dengan berkurangnya rasa nyeri, mudah mengedan, kurangnya trauma vagina dan perineum dan infeksi.

- Menjaga kandung kemih tetap kosong, ibu dianjurkan berkemih sesering mungkin

- Memberikan cukup minum: memberi tenaga, dan mencegah dehidrasi

Posisi Ibu Saat Meneran:

- Bantu ibu untuk memperoleh posisi yang paling nyaman baginya. Setiap posisi memiliki keuntungannya masing-masing, misalnya posisi setengah duduk dapat membantu turunnya kepala janin jika persalinan berjalan lambat.

- Ibu dibimbing mengedan selama his, anjurkan kepada ibu untuk mengambil nafas. Mengedan tanpa diselingi bernafas, kemungkinan dapat menurunkan pH pada arteri umbilikus yang dapat menyebabkan denyut jantung tidak normal dan nilai Apgar rendah. Minta ibu bernafas selagi kontraksi ketika kepala akan lahir. Hal ini menjaga agar perineum meregang pelan dan mengontrol lahirnya kepala serta mencegah robekan.

- Periksa DJJ pada saat kontraksi dan setelah setiap kontraksi untuk memastikan janin tidak mengalami bradikardi.

Kemajuan Persalinan dalam Kala II:

- Temuan berikut menunjukkan kemajuan yang cukup baik pada persalinan kala II: penurunan yang teratur dari janin di jalan lahir, dimulainya fase pengeluaran

- Temuan berikut menunjukkan kemajuan yang kurang baik pada persalinan tahap kedua: tidak turunnya janin dijalan lahir, gagalnya pengeluaran pada fase akhir.

Kelahiran Kepala Bayi:

- Mintalah ibu mengedan atau memberikan sedikit dorongan saat kepala bayi lahir

- Letakkan satu tangan ke kepala bayi agar defleksi tdak terlalu cepat

- Menahan perineum dengan satu tangan lainnya jika diperlukan

- Mengusap muka bayi untuk membersihkannya dari kotoran lendir/darah

- Periksa tali pusat: Jika tali pusat mengelilingi leher bayi dan terlihat longgar, selipkan tali pusat melalui kepala bayi. Jika lilitan tali pusat terlalu ketat, tali pusat diklem pada dua tempat kemudian digunting diantara kedua klem tersebut, sambil melindungi leher bayi.

Kelahiran Bahu dan Anggota Seluruhnya:

- Biarkan kepala bayi berputar dengan sendirinya

- Tempatkan kedua tangan pada sisi kepala dan leher bayi

- Lakukan tarikan lembut kebawah untuk melahirkan bahu depan

- Lakukan tarikan lembut keatas untuk melahirkan bahu belakang

- Selipkan satu tangan Anda ke bahu dan lengan bagian belakangbayi sambil menyangga kepala dan selipkan satu tangan lainnya ke punggung bayi untuk mengeluarkan tubuh bayi seluruhnya

- Letakkan bayi tersebut diatas perut ibunya

- Secara menyeluruh, keringkan bayi, bersihkan matanya, dan nilai pernafasan bayi. Jika bayi menangis atau bernafas, tinggalkan bayi tersebut bersama ibunya

- Jika bayi tidak bernafas dalam waktu 30 detik, mintalah bantuan, dan segera mulai resusitasi bayi

- Klem dan potong tali pusat

- Pastikan bahwa bayi tetap hangat dan memiliki kontak kulit dengan kulit pada dada si ibu. Bungkus bayi dengan kain yang halus dan kering, tutup dengan selimut, dan pastikan kepala bayi terlindung dengan baik untuk menghindari hilangnya panas tubuh.

5. Kala III

Manajemen Aktif Kala III:

Penatalaksanaanaktif pada kala III (pengeluaran aktif plasenta) membantu menghindarkan terjadinya perdarahan pasca persalinan. Penatalaksanaan aktif Kala III meliputi: Pemberian oksitosin dengan segera. Pengendalian tarikan pada tali pusat dan pemijatan uterus segera setelah plasenta lahir.

Penanganan:

- Memberikan oksitosin untuk merangsang uterus berkontraksi yang juga mempercepat pelepasan plasenta: Oksitosin dapat diberikan dalam 2 menit setelah kelahiran bayi. Jika oksitosin tidak tersedia, rangsang puting payudara ibu atau susukan bayi guna menghasilkan oksitosin alamiah atau memberikan ergometrin 0.2 mg I.M.

- Lakukan Penegangan Tali pusat Terkendali (PTT) dengan cara: Satu tangan diletakkan pada korpus uteri tepat diatas simfisis pubis. Selama kontraksi tangan mendorong korpus uteri dengan gerakan dorso-kranial – kearah belakang dan kearah kepala ibu. Tangan yang satu memegang tali pusat dengan klem 5-6 cm didepan vulva. Jaga tahanan ringan pada tali pusat dan tunggu adanya kontraksi kuat (2-3 menit). Selama kontraksi, lakukan tarikan terkendali pada tali pusat yang terus menerus, dalam tegangan yang sama dengan tangan ke uterus.

- PTT dilakukan hanya selama uterus berkontraksi. Tangan pada uterus merasakan kontraksi, ibu dapat juga memberi tahu petugas ketika ia merasakan kontraksi. Ketika uterus sedang tidak berkontraksi, tangan petugas dapat tetap berada pad auterus, tetapi bukan melakukan PTT. Ulangi langkah-langkah PTT pad asetiap kontraksi sampai plasenta terlepas.

- Begitu plasenta terasa lepas, keluarkan dengan menggerakkan tangan atau klem pada tali pusat mendekati plasenta, keluarkan plasenta dengan gerakan ke bawah dan ke atas sesuai dengan jalan lahir. Kedua tangan dapat memegang plasenta dan perlahan memutar plasenta searah jarum jam untuk mengeluarkan selaput ketuban.

- Segera setelah plasenta dan selaputnya dikeluarkan, masase fundus agar menimbulkan kontraksi. Hal ini dapat mengurangi pengeluaran darah dan mencegah perdarahan pasca persalinan. Jika uterus tidak berkontraksi kuat selama 10-15 detik, atau jika perdarahan hebat terjadi, segera lakukan kompresi bimanual dalam. Jika atonia uteri tidak teratasi dalam waktu 1-2 menit, ikuti protokol untuk perdarahan pasca persalinan.

- Jika menggunakan manajemen aktif dan plasenta belum juga lahir dalam waktu 15 menit, berikan oksitosin 10 unit I.M. dosis kedua, dalam jarak waktu 15 menit dari pemberian oksitosin dosis pertama.

- Jika menggunakan manajemen aktif dan plasenta belum juga lahir dalam waktu 30 menit: Periksa kandung kemih dan lakukan kateterisasi jika kandung kemih penuh. Periksa adanya tanda-tanda pelepasan plasenta. Berikan oksitosin 10 unt I.M dosis ketiga, dalam jarak waktu 15 menit dari pemberian oksitosin dosis pertama. Siapkan rujukan jika tidak ada tanda-tanda pelepasan plasenta

- Periksa wanita tersebut secara seksama dan jahit semua robekan pada serviks atau vagina atau perbaiki episiotomi.

6. Kala IV

Diagnosis:

Dua jam pertama setelah persalinan merupakan waktu yang kritis bagi ibu dan bayi. Keduanya baru saja mengalami perubahan fisik yang luar biasa – si ibu melahirkan bayi dari perutnya dan bayi sedang menyesuaikan diri dari dalam perut ibu ke dunia luar. Petugas/bidan harus tinggal bersama ibu dan bayi untuk memastikan bahwa keduanya dalam kondisi yang stabil dan mengambil tindakan yang tepat untuk melakukan stabilisasi.

Penanganan:

- Periksa fundus setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 20-30 menit selama jam kedua. Jika kontraksi tidak kuat, masase uterus sampai menjadi keras. Apabila uterus berkontraksi, otot uterus akan menjepit pembuluh darah untuk menghentikan perdarahan. Hal ini dapat mengurangi kehilangan darah dan mencegah perdarahan pasca persalinan.

- Periksa tekanan darah, nadi, kandung kemih, dan perdarahan setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 30 menit selama jam kedua.

- Anjurkan ibu untuk minum demi mencegah dehidrasi. Tawarkan ibu makanan dan minuman yang disukainya.

- Bersihkan perineum ibu dan kenakan pakaian ibu yang bersih dan kering

- Biarkan ibu beristirahat – ia telah bekerja keras melahirkan bayinya. Bantu ibu pada posisi yang nyaman.

- Biarkan bayi berada pada ibu untuk meningkatkan hubungan ibu dan bayi, sebagai permulaan dengan menyusui bayinya.

- Bayi sangat siap segera setelah kelahiran. Hal ini sangat tepat untuk memulai memberikan ASI. Menyusui juga membantu uterus berkontraksi.

- Jika ibu perlu ke kamar mani, ibu boleh bangun, pastikan ibu dibantu karena masih dalam keadaan lemah atau pusing setelah persalinan. Pastikan ibu sudah buang air kecil dalam 3 jam pasca persalinan

- Ajari ibu atau anggota keluarga tentang: bagaimana memeriksa fundus dan menimbulkan kontraksi. Tanda-tanda bahaya bagi ibu dan bayi.

Daftar Pustaka

Reeder, Martin, Kontak-Griffin. (1997). Maternity Nursing: Family, Newborn and

Women’s Health Care. 18th edition. Philadephia: Lippincott-Raven Publishers

Saifuddin BA, Wiknjosastro HG, Affandi, Waspodo D. (2002). Buku Panduan Praktis

Pelayanan Kesehatan maternal dan Neonatal. 1st edition. Jakarta: Yayasan Bina

Pustaka Sarwono Prawirohardjo

SENAM HAMIL

Deskripsi

Latihan fisik (olahraga) yang dilakukan selama kehamilan, yang bertujuan untuk meningkatkan sirkulasi darah, memperbaiki tonus otot, membantu mengurangi rasa lelah, meningkatkan kenyamanan fisik dan mendukung postur tubuh yang baik.

Kontraindikasi

1. Pregnancy-induced Hypertension

2. Preterm rupture of membranes

3. Preterm labor during the prior or current pregnancy or both

4. Incompetent cervix atau cerclage

5. Persistent second- or third-trimester bleeding

6. Intrauterine growth retardation

Peralatan

2. Matras

3. Bantal

4. Baju dan celana panjang longgar khusus senam

5. Tape

6. Kaset

Prosedur

1. Duduk atau berbaring pada posisi yang nyaman dengan menggunakan bantal

2. Lakukan tehnik pernafasan beberapa kali: tarik nafas melalui hidung, tahan selama 3 detik, keluarkan perlahan-lahan melalui mulut

3. Fokuskan perhatian pada pola pernafasan

4. Tutup mata dengan lembut. Rasakan kenyamanan dimata, menyebar keseluruh mata, bagian atas, bawah dan samping kiri atau kanan

5. Lakukan tehnik pernafasan kembali beberapa kali

6. Nikmati rasa nyaman menyebar dari mata, dahi, kepala, belakang kepala, telinga, pipi, hidung, mulut, dagu.

7. Relaksasi daerah rahang, leher dan bahu sambil melakukan tehnik pernafasan

8. Rasakan relaksasi ke masing-masing bagian tubuh

9. Lakukan latihan:

a. Abdominal-Tightening on Outward Breath

Posisi: Berbaring terlentang atau miring, kaki ditekuk. Letakkan tangan pada area abdominal

Tindakan: Tarik nafas dalam melalui hidung, rasakan lubang hidung mengembang. Kemudian keluarkan melalui mulut, dorong otot abdomen hingga seperti merasakan pengosongan paru-paru. Latihan ini seperti menahan nada pada saat meniup trompet atau pada saat bernyanyi.

b. Pelvic Floor Exercise

Posisi: Berbaring terlentang, atau miring. Kaki diregangkan dan dada relaksasi untuk bernafas normal

Tindakan: Tarik bagian bawah pelvis kedalam, rasakan gerakan dari merapatnya spingter dan daerah genitalia internal terasa menegang. Konsentrasi secara khusus pada bagian depan pelvis. Letakkan satu tangan diatas tulang pubis, dan berpikir untuk merapatkan daerah atau organ reproduksi internal.

Tahan 2-3 detik, kemudian relaksasi.

c. Foot-bending and Foot Stretching

Posisi: Duduk atau berbaring. Kaki dapat direlaksasikan diatas bantal atau kaki dapat ditinggikan.

Tindakan: Tekuk mata kaki sejauh mungkin, dorong ibu kaki mengarah kepada anda, regangkan otot betis, kemudian arahkan kaki ke bawah, melengkung seperti busur panah.

d. Ankle Rotating

Posisi: Seperti pada posisi foot bending and foot stretching

Tindakan: Buat lingkaran besar secara perlahan pada kaki. Pertama dalam posisi arah jarum jam, kemudian arah yang berlawanan jarum jam

e. Pelvic tilting

Posisi:

Tindakan: Putar pelvis dengan meluruskan punggung bawah ke lantai. Kemudian buat usaha tambahan. Kontraksikan otot abdomen pada saat mengeluarkan nafas dan rapatkan otot bokong. Untuk meningkatkan latihan pada otot abdominal bawah, letakkan tangan diatas tulang pubis sampai merasakan otot bekerja. Tahan posisi selama 3 detik kemudian relaksasi. Tetap lakukan nafas dalam, yakinkan bahwa anda tidak menaikkan bokong sama sekali atau menggerakkan bahu anda.

f. Straight Curl Up

Posisi: Berbaring terlentang dengan lutut ditekuk, pelvis diturunkan

Tindakan:

Letakkan dagu ke dada. Pada saat mengeluarkan nafas, angkat kepala sampai kira-kira 45o sampai punggung menekuk dengan pinggang tetap berada di permukaan.

Kembali secara perlahan pada posisi awal, jangan tiba-tiba menjatuhkan diri. Dengan bantuan lengan, bantu badan ke posisi semula.

Daftar Pustaka

Reeder, Martin, Kontak-Griffin. (1997). Maternity Nursing: Family, Newborn and

Women’s Health Care. 18th edition. Philadephia: Lippincott-Raven Publishers

IMUNISASI TETANUS TOXOID (TT) PADA IBU HAMIL

Deskripsi

Pemberian kekebalan pada tubuh ibu hamil dengan:

1. Vaksin inaktivasi atau bakteri yang dimatikan atau

2. Imunoglobulin

Tujuan

Memberi kekebalan pada ibu hamil melawan suatu penyakit infeksi, termasuk didalamnya kemungkinan terpapar penyakit, efek pada ibu dan janin bila sakit, rentan terhadap penyakit dan risiko ke janin dari imunisasi.

Indikasi

1. Proteksi bayi terhadap infeksi neonatorum dengan memberi kekebalan pada ibu hamil. Untuk ibu hamil yang belum pernah imunisasi sebelumnya, minimal 2 dosis dengan interval 4 minggu dan 2 dosis pada saat 2 minggu sebelum persalinan.

2. Imunisasi diberikan selama kehamilan pada saat terjadi peningkatan risiko terpapar atau untuk mendapatkan kekebalan, jika diindikasikan.

3. Imunisasi diberikan selama kehamilan dalam bentuk immunoglobulin bila telah terpapar prophylaxis

Kontraindikasi

Ibu hamil dengan penyakit jantung kronik, paru kronik dan penyakit metabolic

Peralatan

1. Spuit 3 cc

2. Kapas alcohol

3. Vaksin tetanus toxoid

4. Bak instrument

5. Alas

6. Bengkok

Prosedur

1. Persiapan obat: lakukan prinsip 6 BENAR dan double check

2. Siapkan obat dari vial:

- Cek kualitas obat dan hitung dosis obat yang dibutuhkan

- Buka penutup vial dengan mempertahankan sterilitas (bersihkan dengan kapas alkohol untuk vial multi dosis)

- Untuk obat cair: masukkan udara sejumlah dosis (0.5 cc). Tarik obat sesuai dosis

- Keluarkan semua udara yang ada di spuit

3. Pilih dan kaji otot tempat penyuntikan (lebih diutamakan otot deltoid). Atur posisi klien memudahkan penyuntikan

4. Pasang sarung tangan

5. Lakukan pembersihan area suntikan dengan memutar dari arah dalam keluar

6. Gunakan tangan non dominan lalu regangkan area penyuntika. Untuk klien kurus, cubit area penyuntikan. Untuk obat yang mengiritasi, lakukan metode Z track

7. Tusukkan jarum dengan sudut 90o

8. Fiksasi jarum dengan tangan non dominan sementara tangan dominan mengaspirasi spuit. Bila tampak darah dijarum suntik, angkat jarum dan ulangi prosedur

9. Masukkan obat secara perlahan sampai habis

10. Masase lokal penyuntikan dengan perlahan

Daftar Pustaka

Reeder, Martin, Kontak-Griffin. (1997). Maternity Nursing: Family, Newborn and

Women’s Health Care. 18th edition. Philadephia: Lippincott-Raven Publishers

0 Response to "PERTOLONGAN PERSALINAN PADA PROSES MELAHIRKAN"

Poskan Komentar