Kanker Serviks

blogger templates
Kaker serviks merupakan penyebab kematian utama karena kanker pada wanita di negara-negara berkembang. Setiap tahun diperkirakan 500.000 kasus kanker baru di negara-negara berkembang. Di Indonesia diperkirakan 90- 100 kanker baru di antara penduduk 100.000/tahun. Studi epidemiologik mengklaim bahwa faktor risiko terjadinya kanker serviks meliputi hubungan seksual pada usia dini



3). Nutrisi

Banyak sayur dan buah mengandung zat anti oksidan dan berkhasiat mencegah kanker, misalnya advokat, brokoli, kol, wortel, jeruk, anggur, bawang, bayam, tomat. Dari beberapa penelitian ternyata defisiensi asam folat (folic Acid), vitamin C, vitamin E beta karoten/retinal dihubungkan dengan peningkatan risiko kanker serviks. Vitamin C, vitamin E dan beta karoten mempunyai khasiat anti oksidan yang kuat. Anti oksidan dapat melindungi DNA/RNA terhadap pengaruh buruk radikal bebas yang terbentuk akibat oksidansi karsinogen bahan kimia. Vitamin E banyak terdapat dalam minyak nabati ( kedelai, jagung, dan kacang-kacangan ), vitamin C banyak terdapat dalam sayur-sayuran dan buah-buahan.

b. identifikasi :

1). Sitologi

Yaitu dengan tes pap untuk mendeteksi lesi secara dini, tingkat ketelitiannya mencapai 90 % bila dilakukan dengan baik.

2). Kolposkopi

Adalah pemeriksaan dengan menggunakan kalpaskap, suatu alat yang dapat disamakan dengan sebuah mikroskop bertenaga rendah dengan sumber cahaya didalamnya yang menilai perubahan pada epikel dan vaskuler serviks yang mencerminkan perubahan biokimia dan perubahan metabolik yang terjadi di jaringan serviks. Pemeriksaan kolposkopi ini untuk menentukan kapan dan dimana biopsi harus dilakukan.

3). Biopsi

Biopsi dilakukan di daerah abnormal jika SSK ( Sambungan Skuamosa Kolumnar) terlihat seluruhnya dengan kolpaskopi. Jika SSK tidak terlihat seluruhnya atau hanya terlihat sebagian sehingga kelamari di dalam kanalis servikalis tidak dapat dinilai, maka contoh jaringan diambil secara konisasi.

4). Konisasi

Konisasi ialah pengeluaran sebagian jaringan serviks sedemikian rupa sehingga yang dikeluarkan berbentuk kerucut (konus). Untuk tujuan diagnostik, tindakan konisasi harus selalu dilanjutkan dengan kuretase.

5). Pemeriksaan visual langsung

Pada daerah dimana fasilitas pemeriksaan sitologi dan kolposkopi tidak ada, maka pemeriksaan visual langsung dapat digunakan untuk mendeteksi kanker secara dini. Jika penyakit dapat dideteksi pada tingkat ini, maka perjalanan penyakit selanjutnya menjadi kanker invasif dapat dicegah.

c. PENCEGAHAN

Ada 2 cara untuk mencegah kanker serviks :

Mencegah terjadinya infeksi HPV

Melakukan pemeriksaan Pap semear secara teratur

Anjuran untuk melaksanakan Pap smear secara teratur :

Setiap tahun untuk wanita yang bersuami diatas 35 tahun

Setiap tahun untuk wanita yang berganti-ganti pasangan seksual atau pernah menderita infeksi HPV atau kulit kelamin

Setiap tahun untuk wanita yang memakai pil KB

Setiap 2-3 tahun untuk wanita yang berusia diatas 35 tahun jika 3 kali Pap smear berturut-turut menunjukkan hasil negatif atau untuk wanita yang telah menjalani histerektomi bukan karena kanker

Sesering mungklin jika hasil pap smear menunjukan abnormal

Sesering mungkin setelah penilaian dan pengobatan prekanker maupun kanker serviks.

Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kanker serviks sebaiknya :

Anak perempuan yang berusia dibawah 18 tahun tidak melakukan hubungan seksual.

Jangan melakukan seksual dengan penderita kulit kelamin atau gunakan kondom untuk mencegah penularan kulit kelamin

Jangan berganti-ganti pasangan seksual

Berhenti merokok.

0 Response to "Kanker Serviks"

Poskan Komentar